Tepuk Tangan

image

Beberapa hari yang lalu saya memberikan sebuah training motivasi di sebuah perusahaan swasta. Ada sesuatu yang menarik yang sempat menjadi sebuah pertanyaan dalam pikiran saya sampai perjalanan pulang. Yaitu tentang “tepuk tangan”. Pada saat saat pelatihan berlangsung saya menanyakan siapa dari peserta yang berhasil memperoleh penjualan tertinggi di bulan yang lalu. Peserta tersebut saya minta untuk menyampaikan kesan dan kiat-kiatnya sehingga bisa mendapatkan pencapaian tersebut. Selesai ia berbicara saya meminta peserta yang lain untuk memberikan apresiasi dengan tepuk tangan yang meriah. Yang unik adalah pada saat tepuk tangan yang pertama para peserta yang hadir memberikan tepuk tangan dengan kurang meriah alias ogah-ogahan he..he.. Lalu saya bertanya kepada peserta yang berbicara tadi “bagaimana perasaan anda ketika mendapatkan tepuk tangan dari teman-teman tadi ?” dan ia menjawab “biasa saja” dengan gaya bicara yang datar. Dan saya pun meminta para peserta yang hadir untuk memberikan tepuk tangan ulang dengan lebih meriah dan keras. Saya tanyakan lagi “bagaimana perasaanmu sekarang ?” dan ia bilang “luar biasa” dengan wajah yang lebih ceria.

Gemuruh “tepuk tangan” atas apresiasi   yang kita lakukan memang banyak diinginkan oleh setiap orang, termasuk saya he..he..  dengan profesi saya sebagai trainer dan motivator, saya sering merasakan nikmatnya sekaligus tipuannya. Ternyata suara “tepuk tangan” atau pujian sering juga menyusupkan penyakit hati yang merusak. Hati menjadi   angkuh, dan ingin dihormati. Karena sudah terbiasa mendapat “tepuk tangan” di keramaian bila suatu waktu kita tidak mendapat layanan yang memuaskan maka hati akan bergolak dan menuntut perhatian. Dampaknya jadi lebih banyak meminta daripada memberi.

Tepuk tangan bisa menyemangati dan bisa juga menjerumuskan. Mari kita luruskan niat agar kita tidak terjebak dalam tepuk tangan yang menjerumuskan. Luruskan niat dengan melakukan sesuatu dengan niat, cara dan proses terbaik bukan karena kita ingin mendapatkan pujian. Melakukan yang terbaik itu adalah sebuah kebutuhan hidup, penambah kebahagiaan, dan pertanda bahwa masih ada iman di hati kita.

 

#renungan diri#

Thu, 3 Dec 2015 @15:04


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Hit Web Counter Com Website

 

Copyright © 2018 mr Pho - 085641116661 · All Rights Reserved